ENID
Wawasan · An Indonesian Perspective · Bagian 1 dari 6

An Indonesian Perspective

Orang Australia mengenal Indonesia lebih baik daripada hampir semua pasar asing lainnya, tetapi memiliki porsi yang lebih kecil di sana daripada hampir semua investor asing lainnya.

Farhan S. Qureshi, Mitra Pendiri1 September 20262 menit baca

Pada Juli 2026, sebanyak 188.254 orang Australia berkunjung ke Indonesia, atau 12% dari seluruh kedatangan wisatawan asing ke negeri ini. Hanya Malaysia yang mengirim lebih banyak, yakni 228.714 orang (15%). Tiongkok mencatat 156.748 orang (10%) dan Singapura 117.278 orang (8%).

Namun, para investor Australia tampaknya tidak menerima pesan yang sama. Dalam peringkat investor tahunan yang diterbitkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kini Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Australia terakhir muncul pada 2023, dengan nilai US$0,5 miliar sepanjang tahun itu. Pada 2025, Tiongkok berinvestasi US$18,1 miliar dan Singapura US$17,4 miliar.

Tadi malam Dr. Sandiaga S. Uno berada di Sydney untuk bertemu para anggota lokal Indonesia Business Council Australia dan berbagi pandangannya tentang persoalan ini. Lalu, apa yang membuat Pak Sandi layak berbicara tentang topik ini?

Pertama-tama, beliau telah dan masih merupakan seorang maverick sejati di persimpangan investasi, pariwisata, dan, hingga belum lama ini, pemerintahan Indonesia. Bangkit dari gejolak sosial dan ekonomi Krisis Finansial Asia 1998, beliau ikut mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk., yang saat tulisan ini dibuat tercatat di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan investasi aktif terbesar di negeri ini, dengan aset bersih lebih dari US$3 miliar pada berbagai posisi yang menyerupai peta perekonomian: PT Adaro Energy Indonesia Tbk di batu bara; PT Merdeka Copper Gold Tbk di logam mulia seperti emas, perak, tembaga, dan nikel; Tower Bersama Group di telekomunikasi; serta Primaya Hospital di layanan kesehatan.

Beliau kemudian berpindah ke sisi lain meja: menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2017 hingga 2018, maju sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019, dan memegang portofolio Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2020 hingga 2024. Investor. Administrator. Calon Wakil Presiden. Menteri Kabinet. Tidak banyak orang yang pernah menyaksikan penempatan modal di Indonesia dari semua sisi poligon yang sama seperti Pak Sandi.

Satu hal yang mungkin belum Anda ketahui tentang beliau: masa-masa pembentukannya dihabiskan di Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tinggi, tetapi salah satu perjalanan pertamanya ke luar negeri terjadi lebih awal, yakni ke Australia pada awal 1980-an, atas saran ayahnya. Beliau datang dengan impian masa kecil untuk merasakan salju dan akhirnya belajar bermain ski di Thredbo. Penampilan langsung lagu Down Under dari Men at Work dalam suasana akrab tadi malam tentu ikut membangkitkan kembali semua kenangan itu.

Hal itu membawa saya pada kesimpulan terpenting dari perbincangan santai Pak Sandi di tepi pelabuhan (bukan di tepi perapian) tersebut:

Orang Australia mengenal Indonesia lebih baik daripada hampir semua pasar asing lainnya, tetapi memiliki porsi yang lebih kecil di sana daripada hampir semua investor asing lainnya.

Dengan kata lain, apa-apaan …?

Terima kasih kepada Community Bank Darling Square dan Indonesia Business Council Australia yang telah menyelenggarakan malam yang mencerahkan ini.

Lampiran

1 / 6
Posisi Australia
01 Posisi Australia
Penanaman modal asing langsung
02 Penanaman modal asing langsung
Ekspor dari Indonesia
03 Ekspor dari Indonesia
Impor ke Indonesia
04 Impor ke Indonesia
Pengunjung ke Indonesia
05 Pengunjung ke Indonesia
Catatan dan sumber
06 Catatan dan sumber

Geser atau gunakan tanda panah. Pilih lampiran untuk membukanya dalam ukuran penuh.