ENID
Wawasan · An Indonesian Perspective · Bagian 4 dari 6

An Indonesian Perspective: Mata Rantai yang Hilang

Imbal hasilnya ada, dan kapabilitasnya diekspor ke tempat lain. Mengapa tidak ke Indonesia?

Farhan S. Qureshi, Mitra Pendiri16 September 20262 menit baca

Indonesia, secara rata-rata, memberikan imbal hasil 9,6% atas ekuitas asing sepanjang 2015 hingga 2025, termasuk tahun-tahun COVID. Angka itu kira-kira dua kali lipat Amerika Serikat atau Inggris, yang memegang 35% penanaman modal asing langsung (FDI) Australia pada akhir 2025. Indonesia hanya memegang 0,16%.

Seperti yang kita lihat dalam tulisan sebelumnya dalam seri ini, imbal hasil tidak menjelaskan kesenjangan tersebut.

Kandidat berikutnya adalah kapabilitas. Mungkinkah orang Australia memang tidak menguasai hal-hal yang dibutuhkan Indonesia?

Mari kita mulai dari sektor-sektor yang membuat FDI Australia nyaman dan bersedia berinvestasi. Dari US$815 miliar (A$1,2 triliun) yang ditanamkan di luar negeri, tiga sektor inti menyumbang 57%:

  1. Jasa keuanganUS$195 miliar (23,9%)
  2. Pertambangan, minyak dan gasUS$159 miliar (19,6%)
  3. ManufakturUS$113 miliar (13,9%)

Australia menjalankan ketiganya dalam skala besar di dalam negeri dan telah mengembangkannya menjadi operasi global di pasar-pasar utamanya. Sekarang lihat tiga sektor yang sama di Indonesia:

Jasa keuangan (perbankan): Enam bank terbesar adalah bank Indonesia. Setiap bank lapis menengah di bawahnya sepenuhnya dimiliki asing, dengan porsi 79% hingga 99%: MUFG, Sumitomo Mitsui, UOB, CIMB, Bangkok Bank, OCBC, Maybank. Posisi Australia hanyalah 38,8% saham ANZ di Panin, bank kesembilan menurut aset, yang dipegang sejak 1999 dan ditawarkan untuk dijual sejak 2025.

Pertambangan: Vale sudah berada di Sorowako, Sulawesi Selatan, sejak 1968, dan Freeport di Grasberg, Papua Tengah, sejak 1972. Australia memiliki saham besar di satu tambang nikel, Hengjaya di Sulawesi Tengah, sejak 2012. Dua nama lainnya, Macmahon dan Thiess, adalah kontraktor. Mereka adalah ahli yang Anda datangkan untuk menambang, bukan operator tambangnya.

Manufaktur: Sampoerna sejak 1913, Unilever sejak 1933, Aqua sejak 1973, kawasan industri nikel Tiongkok sejak 2013. Australia memiliki tiga posisi, masing-masing berdampingan dengan mitra: BlueScope bersama Nippon Steel, Orica bersama Armindo, dan Nickel Industries di dalam kawasan industri nikel yang dioperasikan Tsingshan dari Tiongkok.

Berdasarkan data realisasi investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Australia mengalirkan US$4,9 miliar ke Indonesia selama sebelas tahun. Pertambangan menyumbang 52% di antaranya. Sebagai porsi dari total arus investasi, asing maupun domestik, Australia menyumbang 3,3% di pertambangan dan 0,21% di manufaktur.

Tiga catatan. Kedua negara mengklasifikasikan industri secara berbeda, sehingga penyelarasannya memerlukan pertimbangan tersendiri. BKPM tidak melaporkan jasa keuangan maupun minyak dan gas hulu, sehingga data perbankan disusun dari laporan perusahaan.

Namun di seluruh data lintas negara, pertanyaan yang lebih besar tetap ada: imbal hasilnya ada, dan kapabilitasnya diekspor ke tempat lain. Mengapa tidak ke Indonesia?

Lampiran

1 / 9
Apa yang dilakukan modal Australia di luar negeri
01 Apa yang dilakukan modal Australia di luar negeri
Investasi Australia di Indonesia menurut sektor
02 Investasi Australia di Indonesia menurut sektor
Siapa yang mengisi sektor-sektor yang dikuasai Australia
03 Siapa yang mengisi sektor-sektor yang dikuasai Australia
Potret perbankan
04 Potret perbankan
Potret pertambangan
05 Potret pertambangan
Potret manufaktur
06 Potret manufaktur
Taksonomi sektor gabungan
07 Taksonomi sektor gabungan
Catatan dan sumber, 1 dari 2
08 Catatan dan sumber, 1 dari 2
Catatan dan sumber, 2 dari 2
09 Catatan dan sumber, 2 dari 2

Geser atau gunakan tanda panah. Pilih lampiran untuk membukanya dalam ukuran penuh.